Perkembangan Seni Musik Masa Dinasti Abbasiyah

"Pada masa Pemerintahan Dinasti Abbasiyah (Iraq sekarang) semua bidang mengalami kemajuan termasuk karya seni. Beberapa di antaranya masih dapat dilacak hingga sekarang dan dapat dijadikan acuan dalam mempelajari kehidupan manusia kala itu"

Abad X disebut sebagai abad pembangunan Daulah Islamiyah yaitu dunia Islam mulai dari Cordoba di Spanyol sampai ke Multan di Pakistan mengalami pembangunan di segala bidang terutama pada aspek ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Dunia Islam pada waktu itu dalam keadaan maju, jaya, makmur sedangkan Barat masih dalam keadaan gelap, bodoh, dan primitif.

Larangan terhadap penggunaan musik dari para ahli fiqh1 tidak begitu berpengaruh pada pemerintahan Abbasiyah di Baghdad. Hal ini berbeda dengan kebijakan semasa Dinasti Umayah di Damaskus. Salah satu buktinya adalah sebuah minat yang diberikan oleh al-Mahdi, seorang penguasa Abbasiyah yang memulai pemerintahannya ketika Dinasti Umayah II (Andalusia) berakhir masanya. Banyak ahli sejarah yang menyatakan bahwa dia selalu mengundang dan memberikan perlindungan kepada Siyath dari Makah (739 – 785 M). Nyanyiannya lebh sering menghangatkan suasana daripada mandi air panas. Dia mempunyai  murid yang bernama Ibrahim al-Maushili (742 – 804 M), penerus musik klasik setelah Siyath. Pada waktu masih kecil Ibrahim, keturunan bangsawan Persia sempat diculik di luar Kota Mosul dan ketika berada dalam kondisi penculikan dia masih menyempatkan diri untuk mempelajari musik yang biasa dimainkan oleh para penculik tersebut. Ibrahim adalah orang pertama yang memperkenalkan cara pengaturan ritme dan tempo dengan sebuah tongkat kecil. Dia bahkan sanggup untuk membenarkan satu di antara tiga puluh pemain flute yang melakukan kesalahan sepele misalkan terdapat senar kedua yang terdengar fals dalam sebuah instrumen. Khalifah al-Rasyid menjadikannya sebagai kerabat dekat dan menghadiahi 150.000 Dirham serta pada tiap bulan diberi tunjangan sebesar 10.000 Dirham. Kebaikan hati Khalifah terhadap musisi tidak hanya diberikan kepada Ibrahim namun juga yang lainnya bahkan beberapa di antaranya pernah mendapatkan upah 100.000 Dirham untuk satu kali nyanyian. Ibrahim ternyata memiliki seorang rival yang berumur lebih muda yaitu Ibn Jami’, yang menurut Goldschmidt (2002, 106) adalah keturunan Quraisy dan anak tiri Siyath. Ibn Jami’ adalah pemain musik yang mahur dalam mengolah nada sedangkan Ibrahim merupakan musisi yang pandai ketika memainkan alat musik.

Istana al-Rasyid yang telah direnovasi seakan menjadi wadah pengembangan kreativitas seni musik kala itu. Fenomena para ahli musik yang senantiasa memperoleh tunjangan resmi dari pemerintah dan sering dikawal oleh budak biduan entah laki-laki ataupun perempuan menimbulkan sejumlah catatan dalam Afghani, ‘Iqd, Nihayah, Fihrist, dan yang pasti Kisah Seribu Satu Malam. Khalifah al-Rasyid sangat mendukung penuh festival musik yang rutin diadakan tiap tahun dan dihadiri oleh 2.000 orang musisi dan penyanyi. Pada saat itu semua orang yang tinggal di istana menari hingga terbit matahari. Pada saat al-Ma’mun menyerbu Baghdad al-Amin malah asyik mendengarkan penyanyi kesukaannya di istana di pinggir Sungai Tigris.

Ahli musik yang menjadi kesayangan dari Khalifah al-Rasyid adalah Mukhariq (wafat tahun 845 M). Saat masih muda, beliau dibeli oleh seorang penyanyi perempuan yang sempat mengetahui Mukhariq menangis dengan suara yang kuat dan bagus di sebuah toko daging milik ayahnya. Dia kemudian dimiliki oleh Harun yang memerdekakannya dengan hadiah sebesar 100.000 Dinar dan meberinya kehormatan dengan satu tempat duduk khusus di sebelah Khalifah. Pada suatu malam dia keluar dari rumah sambil menyusuri Sungai Tigris dan bernyanyi bersamaan dengan itu sejumlah obor menyala di jalanan Baghdad yang dibawa oleh orang-orang yang ingin mendengarkan nyanyian seorang penyanyi tenar kala itu.

Al-Mutawakkil dan al-Makmun memiliki seorang kerabat yaitu Ishaq ibn Ibrahim al-Maushili (767 – 850 M), seorang pengajar musik kala itu. Dia adalah seorang ahli musik Arab klasik yang sangat mahir. Ishaq merupakan pemain musik besar yang pernah dibesarkan oleh Islam. Dia pada suatu ketika menyatakan bahwa yang mengarahkan melodi-melodinya adalah jin seperti halnya ungkapan Ziryab dan ayahnya (Hitti 2005, 536 – 538).

Istana kekhalifahan di Baghdad telah melahirkan banyak penyanyi, pemain lute, dan pencipta lagu terkenal dibandingkan Dinasti Umayah. Ahli musik yang paling terkenal pada zaman Dinasti Abbasiyah adalah Ibrahim ibn al-Mahdi yang merupakan saudara dari Harun dan pada tahun 817 M menjadi rival berat Khalifah al-Ma’mun. Al-Watsiq, pemain instrumen lute dan pernah menggunakan seratus melodi merupakan ahli musik pertama yang menjabat sebgai Khalifah. Penerusnya antara lain al-Mu’tazz (866 – 869 M) dan al-Muntashir (861 – 862 M) yang keduanya merupakan ahli di bidang musik sekaligus sastra. Khalifah-musisi sejati hanya satu yaitu al-Mu’tamid (870 – 872 M). Ibn Khurdadzbih, seorang geograf mengungkapkan banyak hal tentang kemahirannya dalam musik dan seni tari. Karyanya kelak memberikan peran yang banyak bagi ilmu pengetahuan tentang kedudukan manusia masa lalu (Karim 2006, 19).

Peradaban Islam pun telah berjasa mewariskan sederet instrumen musik yang terbilang penting bagi masyarakat musik modern. Berikut ini adalah alat musik yang diwariskan musisi Islam di zaman kekhalifahan dan kemudian dikembangkan musisi Eropa pasca-Renaisans

Alboque atau Alboka. Keduanya merupakan alat musik tiup terbuat dari kayu berkembang di era keemasan Islam. Alboka dan alboque berasal dari bahasa Arab albuq (البق), yang berarti terompet. Ini adalah cikal bakal klarinet dan terompet modern. Instrumen musik alboka dan alboque telah digunakan oleh musisi Islam di masa kejayaan. Imamuddin (1969, 150) menyatakan bahwa alat musik tiup itu diperkenalkan Umat Islam kepada masyarakat Eropa saat pasukan Muslim dari Jazirah Arab berhasil menaklukkan Semenanjung Iberia wilayah barat daya Eropa yang terdiri atas Spanyol, Portugal, Andora, Gibraltar, dan sedikit wilayah Prancis. Sesuatu yang tidak mengherankan jika masyarakat Eropa meyakini bahwa alboque berasal dari Spanyol khususnya Madrid.

Hurdy Gurdy dan Instrumen Musik Keyboard Gesek. Hurdy Gurdy boleh dibilang sebagai nenek moyang alat musik piano. Alat musik ini ternyata juga merupakan warisan dari peradaban Islam di zaman kekhalifahan. Instrumen yang mirip dengan hurdy gurdy pertama kali disebut dalam risalah musik Arab. Manuskrip itu ditulis oleh al-Zirikli pada abad ke-10. Dikenal juga sebagai alat musik organ jarak jauh. Alat musik organ hidrolik jarak jauh pertama kali disebutkan dalam risalah Arab berjudul, Sirr al-Asrar. Alat musik ini dapat didengar hingga jarak 60 mil. Manuskrip berbahasa Arab itu kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin oleh Roger Bacon di abad ke- 13.

Instrumen Musik Mekanik dan Organ Hidrolik Otomatis. Kedua alat musik itu ditemukan oleh Banu Musabersaudara. Ilmuwan Muslim di zaman Abbasiyah ini berhasil menciptakan sebuah organ yang digerakkan oleh tenaga air secara otomatis tenaga air itu memindahkan silender sehingga menghasilkan musik. Prinsip kerja dasar alat musik inipapar masih menjadi rujukan hingga paruh kedua abad ke- 19. Banu Musa bersaudara juga mampu menciptakan peniup seruling otomatis. Ini adalah mesin pertama yang bisa diprogram. Banu Musa mengungkapkan penemuannya itu dalam kitab bertajuk Book of Ingenious Devices.

Ishaq Al-Mausili (wafat 850 M) adalah salah seorang musisi Muslim terbesar di kancah dunia musik Arab pada zaman kekhalifahan. Darah seni menetes dari ayahnya Ibrahim al-Mausili (wafat 804 M) yang juga seorang musisi besar.Ishaq terlahir di al-Raiy Persia Utara. Sang ayah tengah senang mempelajari musik Persia. Dia terus mengembara demi mempelajari dan mengembangkan seni musik yang sangat dicintainya. Ibrahim membawa putranya yang masih kecil ke Kota Baghdad metropolis intelektual dunia. Pada suatu masa nanti di pusat pemerintahan Kekhalifahan Abbasiyah itulah nama Ishaq melambung sebagai seorang musisi legendaris. Kisah masa kecilnya juga tercatat dengan baik. Ishaq cilik memulai pendidikannya dengan mempelajari al-Quran dari al-Kisa’i dan al-Farra.

Musisi handal ini mempelajari tradisi dan budaya dari Hushaim ibn Bushair sedangkan pelajaran sejarah diperolehnya dari al-Asmai’i dan Abu Ubaidah al-Muthanna. Dia sejak kecil sudah kepincut dengan musik namun sang ayah bukanlah satu-satunya guru yang memperkenalkan dan mengajarinya seni musik. Menurut Miss Schlesinger, Ishaq mempelajari musik dari sang paman, Zalzal, dan Atika binti Shuda yang juga musisi terkemuka. Ishaq dikenal sebagai sosok manusia yang kaya dengan budaya. Dia adalah musisi yang intelek. Hal itu dibuktikan dengan perpustakaan pribadinya yang tercatat sebagai yang terbesar di Baghdad. Ishaq telah memberi sumbangan penting bagi pengembangan ilmu musik. Dia adalah musisi yang memperkenalkan solmisasi "do re mi fa sol la si do".

Ishaq al-Mausili memperkenalkan solmisasi dalam bukunya Book of Notes and Rhythms dan Great Book of Songsyang begitu populer di Barat. Musisi Muslim lainnya yang juga memperkenalkan solmisasi adalah Ibn al-Farabi (872 –950 M) dalam Kitab al-Mausiq al-Kabir. Ziryab (789 – 857 M), seorang ahli musik dan ahli botani dari Baghdad turut mengembangkan penggunaan solmisasi tersebut di Spanyol jauh sebelum Guiddo Arezzo muncul dengan notasi Guido’s Handnya.

Peradaban Barat kerap mengklaim bahwa Guido Arezzo adalah musisi yang pertama kali memperkenalkan solmisasi lewat notasi Guido’s Hand. Padahal kenyataanya notasi Guido’s Hand milik Guido Arezzo hanyalah jiplakan dari notasi Arab yang telah ditemukan dan digunakan sejak abad ke- 9 oleh para ilmuwan Muslim. Para ilmuwan yang telah menggunakannya antara lain Yunus al-Katib (765 M), al-Khalil (791 M), al- Ma’mun (wafat 833 M), Ishaq al-Mausili (wafat 850 M), dan Ibn al- Farabi (872 – 950 M). Ibn Firnas (wafat 888 M) pun turut berperan dalam penggunaan solmisasi tersebut di Spanyol. Hal tersebut dikarenakan dia adalah orang yang memperkenalkan Masyarakat Spanyol terhadap musik oriental dan juga merupakan orang yang pertama kali mengajarkannya di sekolah-sekolah Andalusia.

Guido Arezzo mengetahui solmisasi tersebut dengan mempelajari Catalogna, sebuah buku teori musik berbahasa Latin yang berisi kumpulan penemuan ilmuwan Muslim di bidang musik. Solmisasi tersebut ditulis dalam Catalogna yang diterbitkan di Monte Cassino pada abad ke- 11. Monte Cassino merupakan daerah di Italia yang pernah dihuni masyarakat Muslim dan juga pernah disinggahi oleh Constantine Afrika. Peradaban Barat untuk kesekian kali mencoba memanipulasi sejarah.

Tokoh Islam Abbasiyah yang sangat peduli terhadap seni musik adalah al-Farabi. Dia lahir di Farab pada tahun 870 M dan wafat di Aleppo (Suriah) pada tahun 950 M. Nama lengkapnya adalah Abu Nasr Muhammad ibn Muhammad ibn Tarkhan ibn Uzlag al-Farabi. Dia selalu berpindah tempat dari waktu ke waktu. Al-Farabi dikenal rajin belajar serta memiliki otak yang cerdas. Seniman Muslim ini banyak belajar agama, Bahasa Arab, Bahasa Turki, dan Bahasa Persi. Dia pindah ke Baghdad setelah dewasa dan tinggal di sana selama 20 tahun serta mempelajari filsafat, logika, matematika, etika, ilmu politik, dan musik. Al-Farabi mengarang beberapa buku dalam berbagai bidang, diantaranya; logika, fisika, ilmu jiwa, kimia, ilmu politik, dan musik.

Salah satu ciri musik dan nyanyian Bangsa Arab yang merupakan warisan zaman Dinasti Abbasiyah adalah ringkas dalam melodi tetapi kuat dalam ritme dan belum pernah ada satu orang pun yang sanggup mengerti dengan benar sejumlah karya seni musik klasik yang masih eksis atau yang mampu menafsirkan dengan bagus makna dari suatu komposisi ritmis dari zaman kuna beserta terminologi ilmiahnya. Istilah-istilah seperti ini hanya dapat dimengerti dengan cara penelusuran sumber-sumber asalnya dalam tradisi India dan Persia.

 


 

 

Penulis merupakan Alumni Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya UGM dan peserta double degree Suez Canal University Mesir


Catatan

1. Hukum Agama Islam

Add comment


Security code
Refresh

Events Calendar

September 2014
S M T W T F S
31 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 1 2 3 4

Follow me

Link

Arkeologijawa.com
Website Resmi Balai Arkeologi Yogyakarta.

Arkeologi UGM
Website Resmi Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada.

Wacana Nusantara
Sebuah situs web pendokumentasian kisah sejarah leluhur Bangsa Indonesia.

Arkeologi.web.id
Situs web yang berisi tentang suberdaya Arkeologi di penjuru Nusantara.

Produk

Kaos: A Way for Valuing the Past

article thumbnail

Kaos Arupadhatu Indonesia "A Way for Valuing the Past" Harga Kaos : Rp 75.000,- (Belum term [ ... ]


Kaos: SAVE OUR HERITAGE

article thumbnail

  Dalam rangka memperingati Hari Purbakala 14 Juni 2012
Dijual, kaos “SAVE OUR HERITAGE”
Har [ ... ]


Trail: Djelajah Nol Kilometer Djokja

article thumbnail

AGENDA: Bincang Pakar, Telusur Kawasan Nol Kilometer Jogja, Sepeda Santai Sore Keliling Kraton-Tam [ ... ]


www.arupadhatu.or.id © 2012
Yayasan Arupadhatu Indonesia