Permainan Anak-anak Sebagai Upaya Pelestarian Budaya [1]

Perkembangan teknologi menjadikan semua wilayah di dunia terkoneksi. Informasi, barang, dan manusia dengan mudah dan cepat berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya bersama-sama dengan budaya pembawanya (budaya luar), tanpa memperhatikan kesiapan manusia yang menerimanya. Salah satu dampak kemajuan teknologi ini adalah adanya aspek-aspek budaya lokal yang terkikis, ataupun ter-transfer ke orang lain dalam bentuk yang tidak utuh. Selain itu, ada pula aspek-aspek kebudayaan lokal yang disingkirkan ataupun terlupakan karena dianggap kurang mengikuti jaman. Kondisi ini didukung dengan sarana pengganti aspek-aspek budaya yang sifatnya mudah, menarik, tidak memerlukan kontak dengan luar, dan hanya memerlukan ruang yang sempit. Lebih-lebih, sarana pengganti itu dapat meningkatkan status sosial dan ekonomi pemakainya. Kenikmatan menggunakan sarana pengganti ini sering menjadikan budaya lokal tersingkir dan terjadi budaya yang sama di seluruh dunia, walau pada aspek-aspek tertentu masih akan terlihat karakteristik lokalnya.

Pelestarian hasil budaya manusia merupakan suatu kegiatan yang kompleks karena melibatkan usaha memahami obyek dan kegiatan melestarikan makna-makna (simbol) hasil kehidupan masa lalu suatu budaya—baik berupa benda (tangible ) maupun non benda (intangible) yang seringkali hasil budayanya sudah berubah, beralih, hilang, bertambah ataupun berkembang. Simbol-simbol yang merupakan hasil budaya manusia itupun dapat dimaknai oleh pendukungnya dengan berbagai cara dan berbagai arti. Pemaknaan yang berbeda ini merupakan suatu hal yang wajar, karena interpretasi orang akan diwarnai oleh pengalaman, pemahaman, kondisi dan latar belakang serta situasi lingkungan pelaku interpretasi. Hal inilah yang menjadikan hasil budaya yang dengan wujud yang sama tetapi mempunyai variasi yang banyak. Misalnya, makanan, tarian, dan permainan rakyat-- dalam bentuk yang sama akan tetapi variasinya dapat ditemui diberbagai tempat. Untuk melestarikannya perlu proses yang panjang dan merupakan suatu siklus yang tidak pernah berhenti:, mulai dari memahami, perencanakan pendekatan yang sesuai untuk pelestarian, pelaksanaan rencana, evaluasi kegiatan, perbaikan rencana, pelaksanaan, dan evaluasi.

Permainan rakyat yang merupakan sebagian kecil dari hasil budaya manusia, memang penting untuk dilestarikan. Permainan rakyat yang dahulu dikenalkan pada anak-anak, merupakan cara pengenalan budaya sejak dini. Permainan ingling/engklek di Jawa yang menggunakan gacuk—baik dari pecahan gerabah atau tegel pernah dimainkan anak-anak hingga tahun 1970an. Bentuk yang diduga sebagai gacuk—dari bahan fragmen keramik asing ditemukan di beberapa tempat. Di kepulauan Aru, pernah ditemukan fragmen keramik yang dibentuk membulat dengan diameter antara 2 cm hingga 3 cm. Bagian fragmen yang digunakan ada bagian badan suatu wadah, dan bagian dasar suatu wadah. Berdasarkan pengamatan atas benda temuan ini, jelas terlihat usaha manusia untuk memukul-mukul bagian tepinya dengan alat yang lebih keras daripada keramik, sehingga bentunya membulat. Temuan gacuk yang mirip dengan gacuk seperti temuan di kepulauan Aru, juga ditemukan di Singapura. Selain itu, ada beberapa temuan yang mirip seperti itu di situs Trowulan.

Banyak dugaan fungsi artefak ’gacuk’ tersebut. Kemungkinannya gacuk tersebut dahulu digunakan sebagai alat permainan, baik sebagai permainan misalnya seperti ingling/engklek, atau sebagai ’uang-uangan’. Memang sulit menduga fungsi gacuk tersebut, karena jumlah temuannya sedikit dan konteksnya juga di suatu tempat yang teraduk. Oleh karenanya, ada juga anggapan bahwa fragmen keramik berbentuk bundar ini dibuat oleh manusia masa kini. Berdasarkan pengamatan pada masyarakat di Kepulauan Aru saat ditemukannya alat gacuk ini, ternyata tidak ditemukan kebiasaan anak-anak dan orang dewasa di Kepulauan Aru yang menggunakan kembali pecahan/fragmen keramik, atau malah membentuknya menjadi bulatan. Sedangkan observasi di Singapura dan Trowulan tidak dilakukan karena temuan ada pada situs yang jauh dari pemukiman penduduk.

Temuan gacuk yang dibuat dari fragmen keramik masih menjadi tanda tanya. Namun paling tidak ada gambaran adanya pemanfaatan kembali fragmen keramik asing, walaupun belum diketahui apakah oleh orang masa lalu ataukah orang masa kini. Yang jelas, adanya kikisan-kikisan pada tepian benda gacuk tersebut menunjukkan adanya kegiatan manusia untuk menggunakan fragmen keramik asing itu. Entah untuk apa fragmen tersebut, dan kapan dilakukannya pembentukan itu. Memang budaya ide atas penggunaan kembali fragmen keramik asing tersebut sulit dipahami dengan mudah. Etnoarkeologi dan etnografi belum dapat memberikan gambaran tentang temuan tadi, apalagi fungsinya.

Namun, apabila temuan gacuk tadi merupakan benda mainan masa lalu, maka sangat menarik untuk disimak. Dibayangkan bahwa anak-anak masa lalu bermain dengan barang-barang yang sudah tidak dipakai. Mereka mendaur ulang barang yang tidak dipakai, kemudian difungsikan ntuk mainan. Bila gambaran itu mungkin ada, artinya perlu pendalaman atas keterlibatan anak-anak pada kehidupan masa lalu. Apa peran anak-anak dalam kehidupan orang dewasa? Kalau di beberapa pasar malam masih ditemukan mainan anak berupa wadah alat dapur berukuran kecil dari bahan gerabah, alumunium, dan plastik, mungkinkan jaman dahulu juga ada permainan semacam? Mungkinkah anak-anak jaman dahulu juga meniru cara memasak, cara berburu dan meniru berbagai kegiatan orang dewasa masa itu? sungguh, arkeologi tentang anak-anak perlu mulai didalami dan dikembangkan.

Keberadaan anak-anak dalam arkeologi memang harus menjadi perhatian. Banyak temuan kerangka anak bersama-sama dengan kerangka dewasa. Misalnya temuan di Desa Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana (Bali) , dan di Bantaeng (Sulsel). Di Bantaeng, berdasarkan hasil ekskavasi tahun 2000 ditemukan fragmen tulang manusia ditemukan pada tanah yang sudah terganggu (Nayati, 2005). Yang menarik, hasil interpretasi ragawi menyebutkan bahwa ada fragmen tulang bayi laki-laki berusia antara 1.5 tahun hingga 3 tahun. Temuan fragmen tulang bayi tersebut berasosiasi dengan pisau. Sedangkan di bawahnya—sekitar 90cm—ditemukan kerangka yang berdasarkan interpretasi merupakan kerangka wanita berumur sekitar 20-24 tahun. Di bawah lengan kiri kerangka wanita, ditemukan badik, sedangkan pada kaki kanannya terdapat gelang besi. Walaupun sekitar temuan kerangka wanita ini sudah rusak—karena bekal kuburnya sudah diambil dan hanya menyisakan beberapa fragmen keramik asing, namun bentuk kerangkanya masih dapat dikatakan utuh dan kerangkanya masih insitu dan diduga dari tahun 1600an. Berdasarkan temuan fragmen kerangka manusia yang asosiasi dengan pisau dan badik, masyarakat setempat memberikan gambaran bahwa laki-laki selalu berasosiasi dengan pisau, sedangkan wanita selalu berasosiasi dengan badik.

Di masa pengaruh Hindu Budha di Indonesia keberadaan anak-anak dapat dicerminkan dari beberapa relief candi. Di candi Mendut—misalnya—gambaran anak-anak bersama ibunya terlihat di dekat pintu utama. Keberadaan anak pada masa prasejarah, pengaruh agama Hindu dan Budha, serta masa pengaruh Islam di Indonesia memang tidak sangat menonjol terungkap. Namun demikian, adanya orang dewasa merupakan suatu kelanjutan dari proses panjang, dari lahir dan BALITA dan anak-anak, serta remaja. Hanya saja, keberadaan anak-anak dan remaja masa lalu perlu penanganan khusus, karena perlu memahami apakah artefak temuan selama ini dapat membedakan artefak untuk anak-anak, remaja dan dewasa? Pada pengamatan etnografi di sungai dan anak sungai Kampar, Musi, Kapuas, Mahakam serta pantai-pantai di beberapa wilayah di Indonesia, terdapat perahu yang berukuran kecil, sedang dan besar. Perahu kecil, sering digunakan oleh anak-anak dan remaja putri sedangkan perahu sedang selain digunakan oleh remaja putri, juga digunakan oleh ibu-ibu-- walaupun anak-anakpun sering terlihat menggunakan perahu berukuran sedang. Perahu berukuran besar, selain digunakan oleh laki-laki dewasa, kadang-kadang digunakan oleh ibu-ibu.

Kalau bayi pada sekitar 1600an pun dikelola dengan baik, diduga mereka juga sangat diperhatikan ketika mereka BALITA, dan juga dewasa. Walaupun belum jelas apa yang menjadikan mereka disebut dewasa, namun bila mereka sudah menganut Islam, maka sunat menjadi salah satu penandanya, sedangkan untuk anak wanita ditandai dengan menstruasi. Memang tidak mudah memahami proses pendewasaan diri pada masa lalu dari benda budayanya.

Saat ini, permainan anak-anak sudah lebih berbeda dengan tahun 1970an. Permainan jaman tahun 70an dikenal ada bekelan, gobak sodor, ingling/engklek, sumbar suru, dakon, jamuran, ganjilan, benthik, delikan, dan layangan. Pada tahun 80an, dikenal juga permainan yang menggunakan pentil atau karet yang disambung-sambung. Permainan itu dikenal dengan sebutan Yeye. Juga dikenal juga permainan gambar (baik wayang, atau tokoh lainnya), dan koleksi bungkus rokok. Sayangnya, sekarang, banyak permainan tradisional yang dilakukan oleh anak-anak masa tahun 1960-1970an sudah tidak dikenal lagi. Cerita dari orang tua atau kakek-nenek nya mungkin sering didengar. Namun, dengan jumlah anak yang sedikit (karena KB), dan adanya rumah PERUMNAS yang tidak menyisakan halaman atau ruang publik, menjadikan permainan masa jaman 1970-1980an tersebut hilang dan tergantkan dengan permainan yang lebih individu, dan menggunakan teknologi modern.

Permainan rakyat ini sebenarnya penuh makna/simbol yang pemaknaannya dilakukan bersama-sama antara orang dewasa ke anak. Pada masa berikutnya, anak-anak akan mentransferkan pengetahuannya dan pemahamannya atas permainannya kepada teman mainnya. Indahnya, ketika anak melakukan transfer pengetahuan tentang permainannya ke anak lain, interaksi sosial terjadi dalam bentuk yang bermacam-macam—baik itu dalam bentuk penolakan, penyanggahan, negosiasi, pemahaman, dan penerimaan. Proses interaksi sosial ini seringkali tidak dipengaruhi oleh orangtua ataupun orang dewasa, walaupun kadang terjadi peran orangtua/dewasa ikut mempengaruhi keputusan yang ada. Pentransferan pengetahuan permainan anak ke anak ini merupakan olah ingatan—yaitu pengolah dan menyampaikan sesuatu yang sebelumnya pernah disampaikan orang lain kepadanya, dan kemudian disampaikan kepada orang lain/temannya. Secara tidak sadar, sejak kecil anak dikenalkan kegiatan rekonstruksi informasi yang pernah diperoleh, menangkap konsep yang ada. beradaptasi dengan waktu, situasi dan tempat yang berbeda. Yang menarik, permainan yang dilakukan anak-anak tadi bermuatan moral yang terselubung, sehingga sejak kecil anak-anak sudah dibekali dengan nilai-nilai moral budayanya.

Permainan anak mempunyai bentuk dinamis, yang seringkali memerlukan pemahaman atas lingkungan alam setempat. Ketika bermain, secara tidak sadar, anak melakukan strategi—baik yang berkaitan dengan usaha fisik (lari dengan kencang, lari untuk berpindah tempat, jongkok supaya tidak kelihatan, naik pohon, mengecilkan badan supaya tempat persembunyiannya cukup memuat tubuhnya, melakukan ancang-ancang ketika mau meloncat, menghitung ’awangan’ supaya orang lain tidak tahu, ataupun kegiatan lainnya. Selain itu, anak belajar memahami indah, cukup luas/besar, mengekspresikan bentuk. Selain itu, anak dilatih teliti, memahami orang, dan menentukan sikapnya secara mandiri. Banyak aspek-aspek budaya lokal yang secara tersamar terlingkup dalam permanan anak, baik itu di lagu/tembang maupun di peraturan yang ada. Yang jelas, anak mampu menemukan dan mengadaptasikan kebutuhannya dengan baik secara berkelompok ataupun secara individu. Hanya saja, karena halaman rumah sudah semakin mengecil, ruang publik sudah tidak tersedia dan malah tidak ada, lapangan sekolah sudah termakan bangunan, serta banyaknya permainan modern, menjadikan permainan anak (masa lalu) yang dianggap eksotis, penuh dengan pelajaran dan ketrampilan menjadi tidak populer lagi, malah sudah banyak yang tidak mengenalnya. Saat ini, permainan anak menjadi hanya menjadi sebuah/sebagai dari kenangan saja.

Usaha pelestarian permainan anak merupakan suatu usaha yang sangat strategis. Anak, sebagai suatu wadag ’suci’ dikenalkan hal-hal positif dengan aspek-aspek budayanya dengan cara yang sesuai dengan umurnya. Mereka adalah calon penerus bangsa yang nantinya akan melahirkan generasi berikutnya. Penanaman aspek-aspek budaya lokal—permainan anak/permainan rakyat—perlu didukung bagi pelestarian budaya. Hanya saja, bagaimana cara melestarikannya?

Perkembangan teknologi yang mampu mengalihkan pandangan orang ke budaya lain serta meninggalkan budaya sendiri, mungkin perlu dipelajari dan dipakai sebagai media pelestarian. Mungkin cara yang dilakukan stasiun TV menyebarkan informasi baik yang bersifat memberi informasi terbaru, mengingatkan informasi yang ada sebelumnya, memprediksi keadaan yang akan datang, ataupun informasi yang dapat mempengaruhi pendapat orang perlu dipakai sebagai pelajaran dan menentukan inovasi apa yang dapat dipakia sebagai sarana untuk melestarikan permaianan rakyat. Media cetak—baik koran, majalah, komik, buku cerita, mungkin dapat dipakai juga sebagai sarana melestarikan.

Inovasi untuk menemukan cara melestarikan budaya intangible sangat dinanti dan diperlukan

Usaha pelestarian permainan anak dengan modifikasi pernah dilakukan tim Pengabdian Masyarakat Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya di Petungkriono (Pekalongan) bulan Agustus 2005 lalu. Anak-anak sejumlah 50an, diajak memahami mengapa alamnya rusak. Pinus di Lereng barat Merbabu banyak ditebangi secara ilegal, sehingga mengakibatkan longsor dan keragaman hayati hilang. Pengenalan dan pemahaman tentang kerusakan lingkungan diajarkan dengan permainan ular naga dan jamuran. Awal permainan, anak-anak lebih memilih menjadi mandor penebangan kayu liar karena para mandor itu kaya (uang, naik mobil bagus, baju bagus), tapi setelah mereka tahu bahwa mandor tadi melakukan tindakan yang merugikan dan mengakibatkan wilayahnya hancur, maka anak-anak akhirnya memilih menjadi burung, pohon, dan petani berperilaku baik. Selama empat hari kemudian, anak-anak di Petungkriono selalu memainkan permainan itu—sepertinya mereka memperoleh permainan baru, padahal ide-ide baru tentang lingkungannya telah disisipkan oleh para mahasiswa FIB UGM.

Inovasi mahasiswa FIB-UGM dalam usaha merubah pola pikir anak tentang kerusakan lingkungan sekitarnya berjalan dengan baik. Untuk itu, inovasi untuk mengenalkan dan melestarikan permaainan rakyat dapat dilakukan dalam bentuk apapun. Usaha pelestarian dengan pendokumentasian permainan anak dengan CD pun merupakan suatu inovasi yang perlu dihargai. Dengan dokumentasi ini diharapkan anak-anak dan orang tua akan dapat melihat dan mencoba memainkannya. Taraf awal dengan pelihat dan menirukan apa yang dilihat diharapkan dapat dilanjutkan dengan memahami isinya. Kegiatan yang dilakukan oleh Teletubbies (dan film anak-anak yang lain) jelas dapat mempengaruhi anak-anak untuk senang menirukannya. Diharapkan CD dokumentasi permainan rakyat ini dapat menjadi jembatan melestarikan permainan rakyat, tidak saja untuk masa kini, akan tetapi juga harus memperhatikan generasi yang akan datang sehingga budaya ini dapat terjaga keberadaaannya diantara budaya-budaya lain di dunia ini. Lalu, siapa yang harus melestarikan?

Pengelola Pelestarian budaya perlu dilakukan oleh individu maupun kelompok pendukung budaya tersebut, ataupun kelompok pemerhati, serta didukung dan didorong dan difasilitasi oleh pemerintah

Pemerintah dengan kantor-kantornya tentunya berkewajiban untuk mendorong usaha pelestarian aspek-aspek kebudayaan lokal, serta mendorong kesiapan pendukung budaya ini untuk menyaring dan menerima budaya luar. Hanya saja, Usaha pelestarian perlu juga dilakukan oleh semua pihak dan dapat dikelola oleh pemilik budaya tersebut—perseorangan maupun kelompok, tetapi juga boleh dilakukan oleh kelompok pemerhati budaya—LSM, akademisi, masyarakat di luar budaya itu, ataupun kelompok masyarakat yang secara langsung bukan pendukung budaya itu tetapi karena tinggal di lingkungan budaya tersebut. Yang perlu diperhatikan bahwa pelestarian itu untuk siapa? Dan mampukah transfer menggunakan inovasi pilihan itu sudah sesuai? Evaluasi atas satu inovasi dalam usaha melestarikan aspek-aspek kebudayaan merupakan suatu kegiatan wajib dalam prinsip-prinsip pelestarian. Hasil evaluasi diperlukan untuk mengkaji apakah perencanaan dan pelaksanaan usaha pelestarian sudah sesuai dan memenuhi kaidah pelestarian serta apakah usaha pelestarian tersebut sudah sesuai target. Perbaikan atas hasil evaluasi perlu dilakukan untuk mendapatkan polapelestarian yang sesuai denan kebutuhan jaman. Inovasi-inovasi diperlukan dalam penanganan pelestarian permainan rakyat, sehingga permainan itu dapat dikenal wadag dan ruh nya di masa sekarang dan yang akan datang.

Pustaka :

Fentress, James dan Chris Wickham. 1992 .Social Memory, Oxford: Blackwell Publisher.

Little, Barbara (Ed.). 2002. Public Benefit of Archaeology, Gaainesville: University Press of Florida

Lyons, Claire L dan John Papadopoulos (Eds). 2002. Archaeology of Nationalism. Los Angeles: Getty Publications.

Nayati, Widya. 2002. Permainan Anak dan Implikasinya pada Arkeologi yang Kutekuni. (Children games: the implication to the archaeology), Jogja di Mataku. 40 tahun Jurusan Arkeologi FIB, Universitas Gadjah Mada. Pp. 47-50

Nayati, Widya, 2004. ‘Refleksi Budaya Refleksi Identitas: Dilema Mempertahankannya, dalam Sumijati Atmosudiro (ed.) Mempertahankan Jatidiri Bangsa, Yogyakarta: Divisi Penerbitan, Unit Pengkajian dan Pengembangan Fakultas Ilmu Budaya UGM, hlm 69-86.

Nayati, Widya, 2005. Social Dynamics and Local Trading Patterns in Bantaeng Region, South Sulawesi (Indonesia) circa 17th century. Dissertation, National University of Singapore. Singapore.

O’Brian, Michael J dan R Lee Lyman, 2000. ’ Evolutinary Archaeology: Reconstructing and Explaining Historical Linages, dalam Michael Brian Schiffer (ed.), Social Theory in Archaeology. Salt Lake City: The University of Utah Press, hlm 126-142

Shiffer, Michael Brian, 200. ‘Social Theory in Archaeology: Building Bridges dalam Michael Brian Schiffer (ed.), Social Theory in Archaeology. Salt ake City: The University of Utah Press, hlm 1-13.

Skeates, Robin. 2000. Debating the Archaeological Heritage. London:Duckworth.

Thomas, Julian. 1996. Time, Culture and Identity: an Interpretative Archaeology. London: Routledge

Van Dyke, Ruth M dan Susan E Alcock (eds). 2003. Archaeologies of Memory, Oxford: Blackwell Publishers Ltd.



[1] Tulisan berdasarkan pada Makalah untuk workshop Permainan Rakyat, Yogyakarta, 29 November 2005 dengan tambahan data dan ulasan.

[2] Pusat Studi Kebudayaan UGM, Jalan Lingkungan Budaya 1, Sekip Yogyakarta (0274) 521317; 901070; Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya, UGM, Jalan Nusantara 1, Bulaksumur, Yogyakarta. Kontak widyanayati@yahoo.com

Add comment


Security code
Refresh

Events Calendar

August 2014
S M T W T F S
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31 1 2 3 4 5 6

Follow me

Link

Arkeologijawa.com
Website Resmi Balai Arkeologi Yogyakarta.

Arkeologi UGM
Website Resmi Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada.

Wacana Nusantara
Sebuah situs web pendokumentasian kisah sejarah leluhur Bangsa Indonesia.

Arkeologi.web.id
Situs web yang berisi tentang suberdaya Arkeologi di penjuru Nusantara.

Produk

Kaos: A Way for Valuing the Past

article thumbnail

Kaos Arupadhatu Indonesia "A Way for Valuing the Past" Harga Kaos : Rp 75.000,- (Belum term [ ... ]


Kaos: SAVE OUR HERITAGE

article thumbnail

  Dalam rangka memperingati Hari Purbakala 14 Juni 2012
Dijual, kaos “SAVE OUR HERITAGE”
Har [ ... ]


Trail: Djelajah Nol Kilometer Djokja

article thumbnail

AGENDA: Bincang Pakar, Telusur Kawasan Nol Kilometer Jogja, Sepeda Santai Sore Keliling Kraton-Tam [ ... ]


www.arupadhatu.or.id © 2012
Yayasan Arupadhatu Indonesia